728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Saturday, November 30, 2019

    Dari Permasalahan Sampah hingga Kawasan Anjing Liar

    Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika terus melaksanakan pembangunan dan pembenahan. Fasilitas penunjang pun destinasi seperti rest area, toilet, dan shower pun telah disiapkan agar para wisatawan yang datang semakin nyaman. Sayangnya, fasilitas yang telah dibangun tersebut harus dirusak oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
    “Di toilet yang baru selesai dibangun ada yang iseng memasukkan pasir ke dalam lubang kloset. Bahkan ada yang sampai menuang campuran semen ke dalamnya. Ini terpaksa kami bongkar lagi untuk diperbaiki,” ujar General Affair KEK Mandalika, I Gusti Lanang Bratasuta.
    Masalah sampah pun menjadi perhatian penting yang harus segera diselesaikan. Pasalnya, Indonesian Tourism Development Corporation ( ITDC) selaku BUMN pengelola kawasan sudah menyiapkan petugas kebersihan untuk membersihkan area kawasan. Namun hal tersebut tampaknya justru menjadi alasan pembenar para wisatawan yang datang untuk membuang sampah sembarangan.
    “Kan ada petugasnya, biar mereka saja yang bersihkan,” ujar pengunjung seperti yang ditirukan Lanang.
    Jumlah pengunjung ke Pantai Kuta di kawasan Mandalika diklaim telah mencapai 48.000 pengunjung selama momen libur Lebaran lalu. Tercatat, sebanyak 48.263 pengunjung, atau rata-rata sebanyak 5.000 wisatawan setiap hari sejak ITDC membuka secara resmi Kuta Beach Park the Mandalika untuk umum.
    Nilai investasi yang masuk ke kawasan ini sudah di atas Rp20 triliun dari 10 kontrak kerja sama dengan investor. ITDC optimistis nilai investasi ini akan terus bertambah seiring dengan perkembangan pembangunan Mandalika.
    Lanang mengatakan salah satu yang menjadikan Mandalika menjadi menarik bagi investor untuk menanamkan modalnya lantaran cukup banyak fasilitas dan kemudahan yang diberikan.
    “Ada benefit baik dari sisi fiskal dan non fiskal seperti potongan pajak untuk barang impor, kemudahan izin yang selesai dalam 3 jam sampai HGB [hak guna bangunan] di atas HPL [hak pengelolaan] yang sampai 80 tahun,” ujarnya.
    Hingga pertengahan tahun ini, progres pembangunan infrastruktur pendukung tahap I sudah 90%. Tahap I merupakan pembangunan ruas jalan di sisi barat dan sisi timur kawasan. Selanjutnya, akan dilanjutkan dengan tahap II yaitu pembangunan jalan yang menghubungkan sisi barat dan timur.
    Proyek untuk pembangunan lokasi UMKM yang terletak di areal Masjid Nurul Bilad pun sudah mencapai 38,5%. Lokasi UMKM ini diperkirakan sudah bisa digunakan untuk berjualan pada Agustus atau September 2018.
    Pihak ITDC juga telah bekerja sama dengan Universitas Mataram untuk melakukan penelitian guna membangun kawasan hutan mangrove di daerah Gerupuk, Lombok Tengah. Lahan yang telah disiapkan ITDC untuk areal ini seluas 70 hektare.
    Salah satu alasan pembangunan dan pengembangan hutan mangrove ini adalah selain bisa menjadi salah satu destinasi wisata, juga bisa menjadi salah satu upaya untuk menjaga ekosistem. Hal ini dilakukan karena menurut penelitian yang dilakukan Universitas Mataram, pada musim-musim tertentu ada banyak unggas yang bermigrasi dari Australia.
    Selain itu, ITDC juga mengembangkan fasilitas wisata watersport seperti banana boat dan jet ski yang dilengkapi dermaga agar para pengunjung kawasan bisa menikmati kawasan dengan beragam pilihan wisata.
    Tampaknya, keindahan kawasan ini pun tidak hanya dinikmati oleh manusia. Anjing liar pun populasinya kian bertambah di kawasan ini. Bahkan jumlahnya bisa mencapai lebih dari 500 ekor.
    Keberadaan ratusan anjing di kawasan Kuta Mandalika ini dianggap meresahkan karena berkeliaran di kawasan Masjid Nurul Bilad. Anjing-anjing tersebut juga merusak fasilitas seperti merobek karpet di sekitar masjid.
    Rencana pembuatan kandang anjing sebagai salah satu solusi jangka pendek dilakukan guna mengatasi keberadaan anjing liar tersebut.
    ITDC tidak ingin dituduh melakukan pemusnahan oleh para pecinta anjing setempat.
    Pasalnya, biaya untuk mensterilkan ratusan anjing dianggap terlalu mahal. Sehingga salah satu upaya yang akan dilakukan adalah membuatkan kandang, merawat, dan membantu mencarikan pecinta anjing yang bersedia mengadopsi.
    ITDC pun akan melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah Lombok Tengah dan Pemerintah Provinsi NTB untuk bersama mencari solusi jangka panjang terkait dengan permasalahan anjing liar ini.^
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Dari Permasalahan Sampah hingga Kawasan Anjing Liar Rating: 5 Reviewed By: Jass

    Popular Posts

    Scroll to Top